• CASHBACK Tiap TransaksiAsiknya beli di JADIPERGI.com, setiap transaksi apapun Anda mendapatkan cashback langsung.

  • Beragam Produk TravelSelain paket wisata, JadiPergi.com juga menyediakan akomodasi dan ticketing yang dapat melengkapi perjalanan liburan Anda.

  • Hemat BiayaAnda tidak perlu datang ke tour dan travel agent. Cukup akses website atau aplikasi mobile JadiPergi.com kapanpun, dimanapun.n Anda.

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّØ­ْÙ…َÙ†ِ اارَّØ­ِيم

SEKS PRA NIKAH REMAJA, TREND KAH?



PERILAKU seksual ialah perilaku yang melibatkan sentuhan secara fisik anggota badan antara pria dan wanita yang telah mencapai pada tahap hubungan intim, yang biasanya dilakukan oleh pasangan suami istri. Sedangkan perilaku seks pranikah merupakan perilaku seks yang dilakukan tanpa melalui proses pernikahan yang resmi menurut hukum maupun menurut agama dan kepercayaan masing-masing individu.

Perilaku seks pranikah ini memang kasat mata, namun ia tidak terjadi dengan sendirinya melainkan didorong atau dimotivasi oleh faktor-faktor internal yang tidak dapat diamati secara langsung (tidak kasat mata). Dengan demikian individu tersebut tergerak untuk melakukan perilaku seks pranikah.

Motivasi merupakan penggerak perilaku. Hubungan antar kedua konstruk ini cukup kompleks, antara lain dapat dilihat sebagai berikut : Motivasi yang sama dapat saja menggerakkan perilaku yang berbeda, demikian pula perilaku yang sama dapat saja diarahkan oleh motivasi yang berbeda.
Motivasi tertentu akan mendorong seseorang untuk melakukan perilaku tertentu pula. Pada seorang remaja, perilaku seks pranikah tersebut dapat dimotivasi oleh rasa sayang dan cinta dengan didominasi oleh perasaan kedekatan dan gairah yang tinggi terhadap pasangannya, tanpa disertai komitmen yang jelas (menurut Sternberg hal ini dinamakan romantic love); atau karena pengaruh kelompok (konformitas), dimana remaja tersebut ingin menjadi bagian dari kelompoknya dengan mengikuti norma-norma yang telah dianut oleh kelompoknya, dalam hal ini kelompoknya telah melakukan perilaku seks pranikah.

Faktor lain yang dapat mempengaruhi seorang remaja melakukan seks pranikah karena ia didorong oleh rasa ingin tahu yang besar untuk mencoba segala hal yang belum diketahui. Hal tersebut merupakan ciri-ciri remaja pada umumnya, mereka ingin mengetahui banyak hal yang hanya dapat dipuaskan serta diwujudkannya melalui pengalaman mereka sendiri, "Learning by doing".

Disinilah suatu masalah acap kali muncul dalam kehidupan remaja karena mereka ingin mencoba-coba segala hal, termasuk yang berhubungan dengan fungsi ketubuhannya yang juga melibatkan pasangannya. Namun dibalik itu semua, faktor internal yang paling mempengaruhi perilaku seksual remaja sehingga mengarah pada perilaku seksual pranikah pada remaja adalah berkembangnya organ seksual. Dikatakan bahwa gonads (kelenjar seks) yang tetap bekerja (seks primer) bukan saja berpengaruh pada penyempurnaan tubuh (khususnya yang berhubungan dengan ciri-ciri seks sekunder), melainkan juga berpengaruh jauh pada kehidupan psikis, moral, dan sosial.
Pada kehidupan psikis remaja, perkembangan organ seksual mempunyai pengaruh kuat dalam minat remaja terhadap lawan jenis kelamin. Ketertarikkan antar lawan jenis ini kemudian berkembang ke pola kencan yang lebih serius serta memilih pasangan kencan dan romans yang akan ditetapkan sebagai teman hidup. Sedangkan pada kehidupan moral, seiringan dengan bekerjanya gonads, tak jarang timbul konflik dalam diri remaja. Masalah yang timbul yaitu akibat adanya dorongan seks dan pertimbangan moral sering kali bertentangan.

Bila dorongan seks terlalu besar sehingga menimbulkan konflik yang kuat, maka dorongan seks tersebut cenderung untuk dimenangkan dengan berbagai dalih sebagai pembenaran diri.

Pengaruh perkembangan organ seksual pada kehidupan sosial ialah remaja dapat memperoleh teman baru, mengadakan jalinan cinta dengan lawan jenisnya. Jalinan cinta ini tidak lagi menampakkan pemujaan secara berlebihan terhadap lawan jenis dan "cinta monyet" pun tidak tampak lagi. Mereka benar-benar terpaut hatinya pada seorang lawan jenis, sehingga terikat oleh tali cinta.

Perlu pula dijelaskan bahwa pertumbuhan kelenjar-kelenjar seks (gonads) remaja, sesungguhnya merupakan bagian integral dari pertumbuhan dan perkembangan jasmani secara menyeluruh. Selain itu, energi seksual atau libido/nafsu pun telah mengalami perintisan yang cukup panjang; Sigmund Freud mengatakan bahwa dorongan seksual yang diiringi oleh nafsu atau libido telah ada sejak terbentuknya Id. Namun dorongan seksual ini mengalami kematangan pada usia usia remaja. Karena itulah, dengan adanya pertumbuhan ini maka dibutuhkan penyaluran dalam bentuk perilaku seksual tertentu.

Cukup naïf bila kita tidak menyinggung faktor lingkungan, yang memiliki peran yang tidak kalah penting dengan faktor pendorong perilaku seksual pranikah lainnya. Faktor lingkungan ini bervariasi macamnya, ada teman sepermainan (peer-group), pengaruh media dan televisi, bahkan faktor orang tua sendiri.

Pada masa remaja, kedekatannya dengan peer-groupnya sangat tinggi karena selain ikatan peer-group menggantikan ikatan keluarga, mereka juga merupakan sumber afeksi, simpati, dan pengertian, saling berbagi pengalaman dan sebagai tempat remaja untuk mencapai otonomi dan independensi.

Maka tak heran bila remaja mempunyai kecenderungan untuk mengadopsi informasi yang diterima oleh teman-temannya, tanpa memiliki dasar informasi yang signifikan dari sumber yang lebih dapat dipercaya. Informasi dari teman-temannya tersebut, dalam hal ini sehubungan dengan perilaku seks pranikah, tak jarang menimbulkan rasa penasaran yang membentuk serangkaian pertanyaan dalam diri remaja. Untuk menjawab pertanyaan itu sekaligus membuktikan kebenaran informasi yang diterima, mereka cenderung melakukan dan mengalami perilaku seks pranikah itu sendiri.

Pengaruh media dan televisi pun sering kali diimitasi oleh remaja dalam perilakunya sehari-hari. Misalnya saja remaja yang menonton film remaja yang berkebudayaan barat, melalui observational learning, mereka melihat perilaku seks itu menyenangkan dan dapat diterima lingkungan. Hal ini pun diimitasi oleh mereka, terkadang tanpa memikirkan adanya perbedaan kebudayaan, nilai serta norma-norma dalam lingkungan masyakarat yang berbeda.

Perilaku yang tidak sesuai dengan tugas perkembangan remaja pada umumnya dapat dipengaruhi orang tua. Bilamana orang tua mampu memberikan pemahaman mengenai perilaku seks kepada anak-anaknya, maka anak-anaknya cenderung mengontrol perilaku seksnya itu sesuai dengan pemahaman yang diberikan orang tuanya.

Hal ini terjadi karena pada dasarnya pendidikan seks yang terbaik adalah yang diberikan oleh orang tua sendiri, dan dapat pula diwujudkan melalui cara hidup orang tua dalam keluarga sebagai suami-istri yang bersatu dalam perkawinan.

Kesulitan yang timbul kemudian adalah apabila pengetahuan orang tua kurang memadai menyebabkan sikap kurang terbuka dan cenderung tidak memberikan pemahaman tentang masalah-masalah seks anak. Akibatnya anak mendapatkan informasi seks yang tidak sehat. Seorang peneliti menyimpulkan hasil penelitiannya sebagai berikut: informasi seks yang tidak sehat atau tidak sesuai dengan perkembangan usia remaja ini mengakibatkan remaja terlibat dalam kasus-kasus berupa konflik-konflik dan gangguan mental, ide-ide yang salah dan ketakutan-ketakutan yang berhubungan dengan seks. Dalam hal ini, terciptanya konflik dan gangguan mental serta ide-ide yang salah dapat memungkinkan seorang remaja untuk melakukan perilaku seks pranikah.[rileks.com]

Perilaku seks pranikah ini memang kasat mata, namun ia tidak terjadi dengan sendirinya melainkan didorong atau dimotivasi oleh faktor-faktor internal yang tidak dapat diamati secara langsung (tidak kasat mata). Dengan demikian individu tersebut tergerak untuk melakukan perilaku seks pranikah.

Motivasi merupakan penggerak perilaku. Hubungan antar kedua konstruk ini cukup kompleks, antara lain dapat dilihat sebagai berikut : Motivasi yang sama dapat saja menggerakkan perilaku yang berbeda, demikian pula perilaku yang sama dapat saja diarahkan oleh motivasi yang berbeda. <BR
Motivasi tertentu akan mendorong seseorang untuk melakukan perilaku tertentu pula. Pada seorang remaja, perilaku seks pranikah tersebut dapat dimotivasi oleh rasa sayang dan cinta dengan didominasi oleh perasaan kedekatan dan gairah yang tinggi terhadap pasangannya, tanpa disertai komitmen yang jelas (menurut Sternberg hal ini dinamakan romantic love); atau karena pengaruh kelompok (konformitas), dimana remaja tersebut ingin menjadi bagian dari kelompoknya dengan mengikuti norma-norma yang telah dianut oleh kelompoknya, dalam hal ini kelompoknya telah melakukan perilaku seks pranikah.

Faktor lain yang dapat mempengaruhi seorang remaja melakukan seks pranikah karena ia didorong oleh rasa ingin tahu yang besar untuk mencoba segala hal yang belum diketahui. Hal tersebut merupakan ciri-ciri remaja pada umumnya, mereka ingin mengetahui banyak hal yang hanya dapat dipuaskan serta diwujudkannya melalui pengalaman mereka sendiri, "Learning by doing".

Disinilah suatu masalah acap kali muncul dalam kehidupan remaja karena mereka ingin mencoba-coba segala hal, termasuk yang berhubungan dengan fungsi ketubuhannya yang juga melibatkan pasangannya. Namun dibalik itu semua, faktor internal yang paling mempengaruhi perilaku seksual remaja sehingga mengarah pada perilaku seksual pranikah pada remaja adalah berkembangnya organ seksual. Dikatakan bahwa gonads (kelenjar seks) yang tetap bekerja (seks primer) bukan saja berpengaruh pada penyempurnaan tubuh (khususnya yang berhubungan dengan ciri-ciri seks sekunder), melainkan juga berpengaruh jauh pada kehidupan psikis, moral, dan sosial.
Pada kehidupan psikis remaja, perkembangan organ seksual mempunyai pengaruh kuat dalam minat remaja terhadap lawan jenis kelamin. Ketertarikkan antar lawan jenis ini kemudian berkembang ke pola kencan yang lebih serius serta memilih pasangan kencan dan romans yang akan ditetapkan sebagai teman hidup. Sedangkan pada kehidupan moral, seiringan dengan bekerjanya gonads, tak jarang timbul konflik dalam diri remaja. Masalah yang timbul yaitu akibat adanya dorongan seks dan pertimbangan moral sering kali bertentangan.

Bila dorongan seks terlalu besar sehingga menimbulkan konflik yang kuat, maka dorongan seks tersebut cenderung untuk dimenangkan dengan berbagai dalih sebagai pembenaran diri.

Pengaruh perkembangan organ seksual pada kehidupan sosial ialah remaja dapat memperoleh teman baru, mengadakan jalinan cinta dengan lawan jenisnya. Jalinan cinta ini tidak lagi menampakkan pemujaan secara berlebihan terhadap lawan jenis dan "cinta monyet" pun tidak tampak lagi. Mereka benar-benar terpaut hatinya pada seorang lawan jenis, sehingga terikat oleh tali cinta.

Perlu pula dijelaskan bahwa pertumbuhan kelenjar-kelenjar seks (gonads) remaja, sesungguhnya merupakan bagian integral dari pertumbuhan dan perkembangan jasmani secara menyeluruh. Selain itu, energi seksual atau libido/nafsu pun telah mengalami perintisan yang cukup panjang; Sigmund Freud mengatakan bahwa dorongan seksual yang diiringi oleh nafsu atau libido telah ada sejak terbentuknya Id. Namun dorongan seksual ini mengalami kematangan pada usia usia remaja. Karena itulah, dengan adanya pertumbuhan ini maka dibutuhkan penyaluran dalam bentuk perilaku seksual tertentu.

Cukup naïf bila kita tidak menyinggung faktor lingkungan, yang memiliki peran yang tidak kalah penting dengan faktor pendorong perilaku seksual pranikah lainnya. Faktor lingkungan ini bervariasi macamnya, ada teman sepermainan (peer-group), pengaruh media dan televisi, bahkan faktor orang tua sendiri.

Pada masa remaja, kedekatannya dengan peer-groupnya sangat tinggi karena selain ikatan peer-group menggantikan ikatan keluarga, mereka juga merupakan sumber afeksi, simpati, dan pengertian, saling berbagi pengalaman dan sebagai tempat remaja untuk mencapai otonomi dan independensi.

Maka tak heran bila remaja mempunyai kecenderungan untuk mengadopsi informasi yang diterima oleh teman-temannya, tanpa memiliki dasar informasi yang signifikan dari sumber yang lebih dapat dipercaya. Informasi dari teman-temannya tersebut, dalam hal ini sehubungan dengan perilaku seks pranikah, tak jarang menimbulkan rasa penasaran yang membentuk serangkaian pertanyaan dalam diri remaja. Untuk menjawab pertanyaan itu sekaligus membuktikan kebenaran informasi yang diterima, mereka cenderung melakukan dan mengalami perilaku seks pranikah itu sendiri.

Pengaruh media dan televisi pun sering kali diimitasi oleh remaja dalam perilakunya sehari-hari. Misalnya saja remaja yang menonton film remaja yang berkebudayaan barat, melalui observational learning, mereka melihat perilaku seks itu menyenangkan dan dapat diterima lingkungan. Hal ini pun diimitasi oleh mereka, terkadang tanpa memikirkan adanya perbedaan kebudayaan, nilai serta norma-norma dalam lingkungan masyakarat yang berbeda.

Perilaku yang tidak sesuai dengan tugas perkembangan remaja pada umumnya dapat dipengaruhi orang tua. Bilamana orang tua mampu memberikan pemahaman mengenai perilaku seks kepada anak-anaknya, maka anak-anaknya cenderung mengontrol perilaku seksnya itu sesuai dengan pemahaman yang diberikan orang tuanya.

Hal ini terjadi karena pada dasarnya pendidikan seks yang terbaik adalah yang diberikan oleh orang tua sendiri, dan dapat pula diwujudkan melalui cara hidup orang tua dalam keluarga sebagai suami-istri yang bersatu dalam perkawinan.

Kesulitan yang timbul kemudian adalah apabila pengetahuan orang tua kurang memadai menyebabkan sikap kurang terbuka dan cenderung tidak memberikan pemahaman tentang masalah-masalah seks anak. Akibatnya anak mendapatkan informasi seks yang tidak sehat. Seorang peneliti menyimpulkan hasil penelitiannya sebagai berikut: informasi seks yang tidak sehat atau tidak sesuai dengan perkembangan usia remaja ini mengakibatkan remaja terlibat dalam kasus-kasus berupa konflik-konflik dan gangguan mental, ide-ide yang salah dan ketakutan-ketakutan yang berhubungan dengan seks. Dalam hal ini, terciptanya konflik dan gangguan mental serta ide-ide yang salah dapat memungkinkan seorang remaja untuk melakukan perilaku seks pranikah.

Share:

PERILAKU ABNORMAL

APAKAH PERILAKU ABNORMAL ITU?

Ada beberapa kriteria yang digunakan untuk menentukan suatu perilaku abnormal, antara lain:

1.   Statistical infrequency
Perspektif ini menggunakan pengukuran statistik dimana semua variabel yang yang akan diukur didistribusikan ke dalam suatu kurva normal atau kurva dengan bentuk lonceng. Kebanyakan orang akan berada pada bagian tengah kurva, sebaliknya abnormalitas ditunjukkan pada distribusi di kedua ujung kurva. 
Digunakan dalam bidang medis atau psikologis. Misalnya mengukur tekanan darah, tinggi badan, intelegensi, ketrampilan membaca, dsb.

Namun, kita jarang menggunakan istilah abnormal untuk salah satu kutub (sebelah kanan). Misalnya orang yang mempunyai IQ 150, tidak disebut sebagai abnormal tapi jenius.
Tidak selamanya yang jarang terjadi adalah abnormal. Misalnya seorang atlet yang mempunyai kemampuan luar biasa tidak dikatakan abnormal. Untuk itu dibutuhkan informasi lain sehingga dapat ditentukan apakah perilaku itu normal atau abnormal.

2.   Unexpectedness
Biasanya perilaku abnormal merupakan suatu bentuk respon yang tidak diharapkan terjadi. Contohnya seseorang tiba-tiba menjadi cemas (misalnya ditunjukkan dengan berkeringat dan gemetar) ketika berada di tengah-tengah suasana keluarganya yang berbahagia. Atau seseorang mengkhawatirkan kondisi keuangan keluarganya, padahal ekonomi keluarganya saat itu sedang meningkat. Respon yang ditunjukkan adalah tidak diharapkan terjadi.

3.   Violation of norms
Perilaku abnormal ditentukan dengan mempertimbangkan konteks sosial dimana perilaku tersebut terjadi.
Jika perilaku sesuai dengan norma masyarakat, berarti normal. Sebaliknya jika bertentangan dengan norma yang berlaku, berarti abnormal.

Kriteria ini  mengakibatkan definisi abnormal bersifat relatif tergantung pada norma masyarakat dan budaya pada saat itu. Misalnya di Amerika pada tahun 1970-an, homoseksual merupakan perilaku abnormal, tapi sekarang homoseksual tidak lagi dianggap abnormal.

Walaupun kriteria ini dapat membantu untuk mengklarifikasi relativitas definisi abnormal sesuai sejarah dan budaya tapi kriteria ini tidak cukup untuk mendefinisikan abnormalitas. Misalnya pelacuran dan perampokan yang jelas melanggar norma masyarakat tidak dijadikan salah satu kajian dalam psikologi abnormal.

4.   Personal distress
Perilaku dianggap abnormal jika hal itu menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan bagi individu.
Tidak semua gangguan (disorder) menyebabkan distress. Misalnya psikopat yang mengancam atau melukai orang lain tanpa menunjukkan suatu rasa bersalah atau kecemasan.

Juga tidak semua penderitaan atau kesakitan merupakan abnormal. Misalnya seseorang yang sakit karena disuntik.
Kriteria ini bersifat subjektif karena susah untuk menentukan setandar tingkat distress seseorang agar dapat diberlakukan secara umum.

5.   Disability
Individu mengalami ketidakmampuan (kesulitan) untuk mencapai tujuan karena abnormalitas yang dideritanya. Misalnya para pemakai narkoba dianggap abnormal karena pemakaian narkoba telah mengakibatkan mereka mengalami kesulitan untuk menjalankan fungsi akademik, sosial atau pekerjaan.

Tidak begitu jelas juga apakah seseorang yang abnormal juga mengalami disability. Misalnya seseorang yang mempunyai gangguan seksual voyeurisme (mendapatkan kepuasan seksual dengan cara mengintip orang lain telanjang atau sedang melakukan hubungan seksual), tidak jelas juga apakah ia mengalami disability dalam masalah seksual.

Dari semua kriteria di atas menunjukkan bahwa perilaku abnormal sulit untuk didefinisikan. Tidak ada satupun kriteria yang secara sempurna dapat membedakan abnormal dari perilaku normal. Tapi sekurang-kurangnya kriteria tersebut berusaha untuk dapat menentukan definisi perilaku abnormal. Dan adanya kriteria pertimbangan sosial menjelaskan bahwa abnormalitas adalah sesuatu yang bersifat relatif dan dipengaruhi oleh budaya serta waktu.

SEJARAH PSIKOPATOLOGI

Psikopatologi adalah suatu ilmu yang mempelajari proses dan perkembangan gangguan mental

Demonology Awal

Demonology merupakan suatu doktrin yang menyebutkan bahwa perilaku abnormal seseorang disebabkan oleh pengaruh roh jahat atau kekuatan setan. Masyarakat saat itu meyakini bahwa kekuatan roh atau setan dapat merasuk ke dalam tubuh seseorang dan mengontrol pikiran serta tubuh orang tersebut.

Demonology ditemukan dalam budaya Cina, Mesir dan Yunani.
Para pemuka agama pada masa itu melakukan suatu upacara untuk mengeluarkan pengaruh roh jahat dari tubuh seseorang. Mereka menggunakan nyanyian mantra atau siksaan terhadap objek tertentu, bisa binatang atau manusia. Metode tersebut dinamakan exorcism.

Penjelasan fisiologis awal terhadap gangguan mental pada masa Roma dan Yunani Kuno.
Abad 5 SM, Hippocrates (Bapak Kedokteran; penemu ilmu medis modern) memisahkan ilmu medis dari agama, magic dan takhyul. Ia menolak keyakinan yang berkembang pada masa Yunani itu bahwa Tuhan (dewa) mengirimkan penyakit fisik dan gangguan mental sebagai bentuk hukuman.

Hippocrates menjelaskan tentang pentingnya otak dalam mempengaruhi pikiran, perilaku dan emosi manusia. Menurutnya, otak adalah pusat kesadaran, pusat intelektual dan emosi. Sehingga jika cara berpikir dan perilaku seseorang menyimpang atau terganggu berarti ada suatu masalah pada otaknya (otaknya terganggu).

Hippocrates merupakan pelopor somatogenesis – suatu ide yang menyebutkan bahwa kondisi soma (tubuh) mempengaruhi pikiran dan perilaku individu. Jika soma (tubuh) seseorang terganggu, maka pikiran dan perilakunya juga akan terganggu. Kebalikannya, yaitu psychogenesis – suatu keyakinan bahwa segala sesuatu tergantung kepada kondisi psikis individu.

Hippocrates mengklasifikasikan gangguan mental ke dalam tiga kategori yaitu mania, melancholia dan phrentis (demam otak).  Ia yang lebih percaya pada hal-hal yang bersifat natural daripada supranatural percaya bahwa suatu pola hidup tertentu akan mempengaruhi kesehatan otak dan tubuh.

Selain Hippocrates, ada juga dokter dari Roma yang mencoba memberikan penjelasan naturalistik tentang gangguan psikotik. Mereka adalah Asclepiades dan Galen. Disamping itu, keduanya mendukung perlakuan yang lebih manusiawi dan perawatan di rumah sakit bagi para penderita gangguan mental.

Jaman Kegelapan (The Dark Ages)dan kembalinya demonology

Kematian Galen (130 – 200 M), sebagai dokter terakhir pada masa klasik Yunani menandai dimulainya Jaman Kegelapan bagi dunia medis dan bagi perawatan serta studi tentang perilaku abnormal. Setelah runtuhnya Roma dan Yunani, peradaban manusia mengalami kemunduran.

Pada Jaman Pertengahan dan Renaissance (400 – 1500 M), kalangan gereja dan Kristen meluaskan pengaruhnya melalui dunia pendidikan dan misionaris agama menggantikan budaya klasik kala itu. Termasuk dalam hal menangani penderita gangguan mental. Saat itu gangguan mental kembali dihubungkan dengan pengaruh spiritual dan supranatural.

Para pastur menangani penderita gangguan mental dengan berdoa atau menyentuhnya dengan menggunakan benda-benda yang dianggap keramat atau juga memberinya ramuan yang harus diminum pada saat fase bulan mulai mengecil. Sedangkan keluarga penderita percaya dan membawanya ke pastur karena takut dan mempunyai takhyul bahwa penderita terkena pengaruh setan.

Penderita gangguan mental dianggap sebagai tukang sihir. Mereka dianggap bersekutu dengan setan dan menentang Tuhan.

Tahun 1484, Pope Innocent VIII meminta kepada para pendeta di Eropa untuk mencari para tukang sihir. Kemudian dua tahun kemudian setelah dia mengirim dua pendeta ke Jerman, akhirnya dikeluarkan buku petunjuk yang diberi nama Malleus Maleficarum untuk melakukan perburuan tukang sihir (witch hunts).

Buku ini berisi tentang berbagai tanda untuk mendeteksi tukang sihir seperti bercak merah atau daerah rawan pada kulit tukang sihir. Bercak tersebut menurut buku panduan itu, diduga  dibuat oleh setan dengan cakarnya sebagai tanda perjanjian antara tukang sihir itu dengan setan.

Para tukang sihir yang tertangkap dan tidak mengaku akan disiksa dan dipenjara seumur hidup bahkan sampai menjalani eksekusi mati.

Witch hunting mulai mereda pada abad 17 dan 18. Di Spanyol pada tahun 1610, berbagai tuduhan terhadap tukang sihir yang ditangkap dinyatakan batal. Tuduhan tersebut harus disertai dengan bukti-bukti yang independen, tidak dibenarkan adanya penyiksaan serta barang-barang milik tukang sihir tersebut tidak akan disita.

Di Swedia, pada tahun 1649, Queen Christina memerintahkan untuk membebaskan semua tukang sihir kecuali mereka yang benar-benar terbukti melakukan pembunuhan.

Di Perancis, tahun 1682, Raja Louis XIV mengeluarkan dekrit tentang pembebasan tukang sihir.
Eksekusi terakhir terhadap tukang sihir dilakukan di Swiss pada tahun 1782.

Sampai akhir Jaman Pertengahan, semua penderita gangguan mental dianggap sebagai tukang sihir. Dalam pengakuannya beberapa dari mereka mengaku mempunyai hubungan dengan setan, melakukan hubungan seksual dan sering berkumpul dengan kelompok roh atau setan. Hal itu dalam pandangan abnormal diinterpretasi mungkin para tukang sihir tersebut mengalami halusinasi atau delusi dan beberapa dari mereka didiagnosis mempunyai gangguan psikosis.

Pembangunan Asylums selama Renaissance (Jaman Pencerahan)

Pada abad 15 dan 16, di Eropa mulai dilakukan pemisahan dengan serius antara penderita gangguan mental dari kehidupan sosialnya. Disana dibangun suatu tempat penampungan yang disebut Asylums. Di asylums itu ditampung dan dirawat penderita gangguan mental dan para gelandangan. Mereka dibiarkan untuk tetap bekerja dan tidak diberi suatu aturan hidup yang jelas.

Tahun 1547, Henry VIII membangun London’s Hospital of St. Mary of Bethlehem (kemudian terkenal dengan nama Bedlam), sebagai rumah sakit pasien gangguan mental. Kondisi di Bedlam saat itu cukup menyedihkan dimana disana suasananya sangat bising dan membingungkan serta kemudian Bedlam berkembang menjadi hiburan masyarakat untuk mencela dan menonton tingkah laku orang sakit jiwa tersebut. Bedlam sendiri kemudian menyediakan tiket untuk dijual kepada masyarakat.

Gerakan Reformasi : the insane as sick

Konsep baru tentang gangguan dan penyakit mental muncul dalam Revolusi Amerika dan Perancis sebagai bagian dari proses pencerahan (renaisans) bidang rasionalisme, humanisme dan demokrasi politik. Orang gila (insane) kemudian dianggap sebagai orang sakit.

Tokoh di Eropa kemudian ikut menyuarakan hal itu. Misalnya Chiarugi di Italia dan Muller di Jerman menyuarakan tentang treatment rumah sakit yang lebih humanis. Tetapi perwujudan konsep baru dalam bidang ini dipelopori oleh Phillipe Pinel (1745 – 1826).

Pinel kemudian memulai pekerjaannya dari asylums di Paris yang bernama La Bicetre. Pinel merupakan figur yang mempelopori gerakan treatment yang lebih humanis (manusiawi) terhadap penderita gangguan mental. Ia membebaskan pasien di La Bicetre dari ikatan rantai dan pasung kemudian memperlakukannya sebagai seorang yang sakit dan tidak diperlakukan seperti seekor hewan sebagaimana dilakukan di La Bicetre.

Beberapa pasien yang awalnya tidak terawat kemudian dapat terlihat lebih tenang. Mereka juga bebas berjalan-jalan di rumah sakit tanpa ada kecenderungan untuk menyakiti orang lain. Selain itu, di ruangan mereka di bawah tanah, dipasang penerangan dan sistem peredaran udara (ventilasi). Setelah beberapa tahun menjalani perawatan yang lebih manusiawi, beberapa pasien dapat pulih kembali dan keluar dari La Bicetre.

Pinel berpendapat bahwa rumah sakit seharusnya merupakan tempat untuk treatment bukan untuk mengurung. Menurutnya, pasien gangguan mental pada dasarnya adalah orang normal yang selayaknya didekati dengan perasaan iba, memahami mereka serta diperlakukan sesuai dengan martabatnya sebagai individu. Pinel juga menentang adanya   hukuman dan pengusiran bagi para penderita gangguan mental. Pinel kemudian juga mengajukan studi ilmiah dan kategorisasi penyakit mental, melakukan pencatatan kasus, riwayat hidup dan studi terhadap metode treatment. Ia kemudian menyebutkan bahwa beberapa kondisi psikosis mungkin merupakan faktor psikogenesis.

Semangat Pinel diteruskan oleh British Quakers yang membangun ‘asylums for the insane’ yang pada waktu itu berkonotasi sebagai tempat pengungsian dan tempat istirahat.  Pada awal abad 19, rumah sakit di Amerika dan Inggris menekankan ‘moral treatment’ untuk memulihkan kesehatan mental melalui inspirasi spiritual, studi dan perhatian yang penuh kebajikan (benevolent care).

Pertengahan abad 20, perhatian diarahkan dalam pengembangan ‘therapeutic millieus’ dan merubah rumah sakit dari custodial (model tahanan) menjadi therapeutic agency. Tetapi terjadi kemunduran dalam masalah perawatan dalam rumah sakit pada keadaan dehumanisasi seperti yang ditentang Pinel. Kondisi yang buruk tersebut diungkap oleh Dorothy Dix dan Clifford Beers pada awal abad 20 dan oleh Deutcsh (1949) yang menunjukkan bagaimana masyarakat menolak orang sakit jiwa dan memperlakukan orang sakit jiwa secara tidak layak. Pada berbagai rumah sakit pemerintah, ‘Bedlam’ terus hidup hingga sekarang. Demikian pandangan masyarakat yang walaupun secara eksplisit mengatakan ‘insane as sick’ tapi seringkali perlakuan yang ditampakkan justru menunjukkan ‘insane as subhuman / possessed (kesurupan)’.

Pendekatan Medis pada Gangguan Mental

Sejak 2 abad terakhir, konsep gangguan mental sebagai penyakit yang disebabkan oleh faktor natural dan dapat dijelaskan secara ilmiah merupakan pandangan yang cukup dominan.

Para dokter berusaha menjelaskan bentuk dan jenis penyakit mental, menemukan penyebabnya, ciri-cirinya dan mengembangkan metode treatment yang tepat.

Anggapan dokter adalah bahwa setiap terjadi perilaku yang patologis merupakan penyakit susunan saraf. Penelitian dalam hal ini sudah banyak dilakukan.

Tradisi psikiatri medis paling terwakili oleh Emil Kraepelin (1855 – 1926). Ia mencoba mendaftar gejala-gejala yang tampak dari disfungsi mental, kemudian mengklasifikasikan pasien berdasarkan pola simtom dan mengidentifikasi serta mengklasifikasikan penyakit mental.

Kraepelin melabel 2 penyakit mental parah yang paling umum yakni dementia praecox (sekarang lebih dikenal dengan sebutan skizofrenia, dari istilah Eugen Bleuler) dan manic-depressive psychosis.

Pendekatan Psikologis pada Gangguan Mental

Psikopatologi tidak hanya mengetengahkan konsep penyakit psychological functioning, tapi juga mengetengahkan bahwa gangguan tersebut disebabkan oleh faktor-faktor psikologis.

Orientasi psikogenik muncul pada studi tentang histeria, yaitu suatu kondisi neurotis yang sering ditandai dengan gejala fisik seperti, mati rasa, kebutaan dan juga gejala behavioral seperti kehilangan memori, kepribadian atau kondisi emosi yang tidak menentu. Pada abad 18 dan 19, di Eropa banyak dijumpai subjek yang mengalami simtom histeria tersebut.
Untuk menjelaskan terjadinya histeria tersebut, muncul beberapa pandangan yang berorientasi psikogenik.     Salah satunya adalah dokter Austria, Franz Anton Mesmer (1734 – 1815).

Studi tentang histeria ini menggunakan metode hipnotis. Di bawah kondisi hipnotis, pasien dengan histeria dapat memunculkan kembali simtom histeria yang biasanya muncul. Hipnotis kemudian menjadi suatu metode yang penting dalam treatment psikologis, terutama psikoanalisa yang biasa menggunakan asosiasi bebas dan interpretasi mimpi untuk mengeksplorasi alam bawah sadar.

Selain hipnotis, metode lain yang digunakan untuk melakukan terapi pada gangguan mental adalah katarsis yang dikenalkan oleh Josef Breuer dan kemudian dikembangkan oleh Sigmund Freud.

Katarsis adalah suatu metode terapeutik dimana pasien diminta untuk mengingat kembali dan melepaskan emosi yang tidak menyenangkan, mengalami kembali ketegangan dan ketidakbahagiaannya dengan tujuan untuk melepaskan dari penderitaan emosional.

Mesmer, Charcot, Breuer dan Freud mengembangkan metode hipnotis dan katarsis. Hal itu menunjukkan adanya orientasi psikogenik terhadap gangguan mental.

Share:

Hipnotis Marketting Dalam Dunia Bisnis, Pendidikan & Politik

Pernahkah anda tanpa sadar terhipnotis? Belum? Jangan salah, anda bisa terhipnotis tanpa melalui gendam, cablek atau sejenisnya. Ya..anda bisa terhipnotis dalam aktivitas harian berikut:

1. Melamun
2. Menjelang tidur
3. Nonton TV/Film
4. Baca buku
5. Meditasi
6. Nonton bola
7. Main game
8. Dalam Suatu Seminar
9. Pada saat belajar di kelas
10. Pada Suatu Rapat/pertemuan
11.Pada saat anda shoping
12.Pada saat anda berekreasi
13.Mendengarkan Musik atau Talk Show

Pada ke-13 hal di atas, frekuensi otak kita turun menjadi tingkat alpha (8 - 12 Hz). Ciri-cirinya, subyek kurang respon terhadap pengaruh dari luar dan pikirannya larut. Semakin asyik subyek terhadap obyeknya, maka semakin "lengket" pikirannya ke dalam kondisi terhipnosis dan siap untuk diprogram.

Saat orang berada di level alpha, relatif mudah diprogram bawah sadarnya untuk melakukan sesuatu. Side effect lainnya, timbul keinginan yang tidak direncanakan untuk membeli suatu produk,termotivasi untuk mengetahui lebih dalam dan menfigurkan seseorang dengan teknik-teknik hipnotis marketing tersebut. Jadi, anda "diarahkan" untuk memilih/membeli merek tertentu,mencari informasi tertentu, dan memilih figur tertentu.yang pada intinya adlah mengikuti kemauan dari sang penghipnotis.
Sang penghipnotis mampu melakukan perubahan perilaku Anda melalui pembangunan persepsi dan pembentukan mindset, yang akan Anda yakini sebagai sebuah Value, Kredo bahkan Kepercayaan.

Inti dari hipnotis marketing adalah menstimulasi konsumen melalui konsep diri yang dibangung berdasarkan kerangka hirarki kebutuhan dari Maslow,kemudian lifestyle mereka dan pengaruh lingkungan yang mampu membentuk persepsi mereka.

Dalam seni bela aikido, memukul secara langsung adalah cara terakhir untuk menjatuhkan lawan. Aikido mengajarkan bahwa untuk melumpuhkan lawan, anda tidak perlu memukul dan menyerang secara terus menerus. Anda cukup mengikuti gerakan lawan, kemudian menjatuhkanya dengan bantuan tenaga lawan, cukup satu gerakan lawanpun sudah terjungkal.

Pada Hipnotis marketing banyak menggunakan tehnik empati untuk bisa mendorong konsumen untuk melakukan apa yang anda inginkan ( membeli produk anda ). Coba perhatikan, anda tidak perlu merayu dengan ribuan kata kata sihir, anda cukup mengetahui apa yang konsumen inginkan, kemudian perlahan lahan giring mereka.
Anda harus ingat, konsumen tidak pernah peduli apa yang anda inginkan, tetapi mereka akan fokus untuk memikirkan apa keuntungan yang akan mereka dapat.

Dalam setiap pertemuan dengan konsumen  hanya menghabiskan 10 sampai 15 menit untuk menceritakan produknya kepada calon pembeli, sisanya ia gunakan untuk menfokuskan pada kemauan pembeli, lifestyle pembeli,kehidupan sosial pembeli,dalam satu jam pertemuan,  Gunakan 50 menit untuk memberikan empati,dan gunakan 10 menit sisanya untuk menjual.

Share:

Untuk Dikenang





Mahasiswa STAI Darul Ulum Kdg, S1 PAI Khusus



NO. NIM NAMA
1 2011121318 ABDALUDDIN
2 2011121320 AHMAD SARDINI
3 2011121321 AHMAD SUHAIB
4 2011121322 AHMAT MULYADI
5 2011121323 AINUN JARIAH
6 2011121324 ANI MULYATI
7 2011121328 BAHRUL HAYYUN
8 2011121330 BARKAN BAIHAKI
9 2011121333 DEWI MULIYANI
10 2011121334 FATAHILLAH ABYADI
11 2011121335 FATIMAH
12 2011121337 H. RAHMADI
13 2011121338 HALIFATUR RAHMAH
14 2011121339 HALIMAH
15 2011121340 HASTUTI ARIYANTI
16 2011121341 HERLINA FAUZIAH
17 2011121342 HJ. SITI ZUBAIDAH
18 2011121343 HUMAIDI
19 2011121345 JARIAH
20 2011121346 JUMIATI
21 2011121347 JURIATUN THAIBAH
22 2011121348 KHAIRIL ANWAR
23 2011121349 LINA SARI
24 2011121350 M. MUZAKIR
25 2011121351 M.MAHLI
26 2011121352 MAHMUDAH
27 2011121354 MARIANI
28 2011121355 MARYANI
29 2011121356 MAWADDAH
30 2011121357 MUHAMMAD FAESAL
31 2011121358 MUHAMMAD ILMI
32 2011121361 NOR ARIFIN
33 2011121363 NOR ZAINAB
34 2011121365 NORDINAH
35 2011121369 NURANI
36 2011121371 NURUL IKHLAS
37 2011121373 RABIATUL ADAWIAH
38 2011121377 RAHMIYATI AZIZAH
39 2011121382 RIZKY AMALIA
40 2011121383 ROHAMA
41 2011121386 SANWARI HIDAYAT
42 2011121387 SARWANI
43 2011121388 SITI MARYAM
44 2011121389 SITI SAPIAH
45 2011121390 SRI HERLINAWATI
46 2011121391 SUBLI
47 2011121392 SUHAIF SHIDDIQ
48 2011121395 SYAHFUR WIRAWAN
Share:

UU HC No.19 Th.2002 - Hak Cipta atas Potret

Bagian Keenam
Hak Cipta atas Potret
Pasal 19

(1)

Untuk memperbanyak atau mengumumkan Ciptaannya, Pemegang Hak Cipta atas Potret seseorang harus terlebih dahulu mendapatkan izin dari orang yang dipotret, atau izin ahli warisnya dalam jangka waktu 10 (sepuluh) tahun setelah orang yang dipotret meninggal dunia.

(2)

Jika suatu Potret memuat gambar 2 (dua) orang atau lebih, untuk Perbanyakan atau Pengumuman setiap orang yang dipotret, apabila Pengumuman atau Perbanyakan itu memuat juga orang lain dalam potret itu, Pemegang Hak Cipta harus terlebih dahulu mendapatkan izin dari setiap orang dalam Potret itu, atau izin ahli waris masing-masing dalam jangka waktu 10 (sepuluh) tahun setelah yang dipotret meninggal dunia.

(3)

Ketentuan dalam pasal ini hanya berlaku terhadap Potret yang dibuat:

a. atas permintaan sendiri dari orang yang dipotret;

b. atas permintaan yang dilakukan atas nama orang yang dipotret; atau

c. untuk kepentingan orang yang dipotret.


Pasal 20

Pemegang Hak Cipta atas Potret tidak boleh mengumumkan potret yang dibuat:

a. tanpa persetujuan dari orang yang dipotret;

b. tanpa persetujuan orang lain atas nama yang dipotret; atau

c. tidak untuk kepentingan yang dipotret,

apabila Pengumuman itu bertentangan dengan kepentingan yang wajar dari orang yang dipotret, atau dari salah seorang ahli warisnya apabila orang yang dipotret sudah meninggal dunia.



Pasal 21

Tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta, pemotretan untuk diumumkan atas seorang Pelaku atau lebih dalam suatu pertunjukan umum walaupun yang bersifat komersial, kecuali dinyatakan lain oleh orang yang berkepentingan.


Pasal 22

Untuk kepentingan keamanan umum dan/atau untuk keperluan proses peradilan pidana, Potret seseorang dalam keadaan bagaimanapun juga dapat diperbanyak dan diumumkan oleh instansi yang berwenang.


Pasal 23

Kecuali terdapat persetujuan lain antara Pemegang Hak Cipta dan pemilik Ciptaan fotografi, seni lukis, gambar, arsitektur, seni pahat dan/atau hasil seni lain, pemilik berhak tanpa persetujuan Pemegang Hak Cipta untuk mempertunjukkan Ciptaan di dalam suatu pameran untuk umum atau memperbanyaknya dalam satu katalog tanpa mengurangi ketentuan Pasal 19 dan Pasal 20 apabila hasil karya seni tersebut berupa Potret.


UU Hak Cipta, Etika, dan Fotografi

Belakangan ini perkembangan dunia fotografi semakin pesat. Terutama setelah pabrikan kamera mulai mengenalkan kamera digital. Fotografi menjadi hoby yang murah dan hampir semua lapisan masyarakat menggelutinya. Baik lewat kamera DSLR, Prosumer maupun Pocket Digital dan kamera dari telepon selular.

Ada beberapa yang selalu dilewatkan oleh teman-temah pehoby fotografi yaitu Undang-Undang Hak Cipta dan etika yang berhubungan dengan Fotografi. Banyak sekali kejadian dan kasus yang bisa dan telah menjerat pehoby fotografi maupun profesional di bidang ini. Sejenak marilah kita berdiskusi dan dan mencermati beberapa hal berikut ini.

Sesuai Undang-Undang Hak Cipta No 19 tahun 2002, ada beberapa pasal yang harus dipelajari dan didiskusikan bersama.

Pertama: bagian keempat UUHC, pasal 12 ayat 1 huruf J dan K. Disebut: Dalam Undang-undang ini Ciptaan yang dilindungi adalah Ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra, yang mencakup: J-fotografi dan K-sinemaografi. Menurut pandangan saya setiap foto yang dihasilkan langsung melekat hak ciptanya tanpa harus mendaftarkan di Dirjen HAKI.

Kedua: Bagian keenam, Pasal 19 Hak Cipta atas Potret:
(1) Untuk memperbanyak atau mengumumkan Ciptaannya, Pemegang Hak Cipta atas Potret seseorang harus terlebih dahulu mendapatkan izin dari orang yang dipotret, atau izin ahli warisnya dalam jangka waktu 10 (sepuluh) tahun setelah orang yang dipotret meninggal dunia.
(2) Jika suatu Potret memuat gambar 2 (dua) orang atau lebih, untuk Perbanyakan atau Pengumuman setiap orang yang dipotret, apabila Pengumuman atau Perbanyakan itu memuat juga orang lain dalam potret itu, Pemegang Hak Cipta harus terlebih dahulu mendapatkan izin dari setiap orang dalam Potret itu, atau izin ahli waris masing-masing dalam jangka waktu 10 (sepuluh) tahun setelah yang dipotret meninggal dunia.
(3) Ketentuan dalam pasal ini hanya berlaku terhadap Potret yang dibuat:
a. atas permintaan sendiri dari orang yang dipotret;
b. atas permintaan yang dilakukan atas nama orang yang dipotret; atau
c. untuk kepentingan orang yang dipotret.

Ketiga: Pasal 20:
Pemegang Hak Cipta atas Potret tidak boleh mengumumkan potret yang dibuat:
a. tanpa persetujuan dari orang yang dipotret;
b. tanpa persetujuan orang lain atas nama yang dipotret; atau
c. tidak untuk kepentingan yang dipotret, apabila Pengumuman itu bertentangan dengan kepentingan yang wajar dari orang yang dipotret, atau dari salah seorang ahli warisnya apabila orang yang dipotret sudah meninggal dunia.
Keempat: pasal 21:
Tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta, pemotretan untuk diumumkan atas seorang Pelaku atau lebih dalam suatu pertunjukan umum walaupun yang bersifat komersial, kecuali dinyatakan lain oleh orang yang berkepentingan.

Kelima; Pasal 22: Untuk kepentingan keamanan umum dan/atau untuk keperluan proses peradilan pidana, Potret seseorang dalam keadaan bagaimanapun juga dapat diperbanyak dan diumumkan oleh instansi yang berwenang.

Keenam; Pasal 23: Kecuali terdapat persetujuan lain antara Pemegang Hak Cipta dan pemilik Ciptaan fotografi, seni lukis, gambar, arsitektur, seni pahat dan/atau hasil seni lain, pemilik berhak tanpa persetujuan Pemegang Hak Cipta untuk mempertunjukkan Ciptaan di dalam suatu pameran untuk umum atau memperbanyaknya dalam satu katalog tanpa mengurangi ketentuan Pasal 19 dan Pasal 20 apabila hasil karya seni tersebut berupa Potret.

Yang ingin saya diskusikan dengan teman-teman adalah beberapa hal berikut:
1. Sudahkan teman-teman melengkapi diri dengan formulis kosong ketika hunting ke daerah-daerah untuk berjaga-jaga ketika mendapat obyek manusia yang menarik misalnya. Karena sewaktu-waktu akan dipublikasikan atau dijual, atau diikutkan lomba harus ada model release nya. Selain itu tentu saja mempublikasikan foto manusia tanpa ijin melanggar UUHC.

2. Apakah teman teman juga sadar bahwa memotret benda atau barang atau properti orang dan dipublikasikan juga bisa melanggar hak cipta jika pemiliknya menuntut?

3. Pernahkan tema-teman meminta ijin ketika memotret. Karena ada beberpa kasus teman yang secara sengaja memotret orang dan orang yang difoto marah-marah karena keberatan difoto. Beberapa ada yang ngamuk bawa golok, dan si pemotret kemudian bikin tulisan di blog, gantian marah-marah padahal jelas-jelas dia tidak memakai etika ketika memotret. Juga ketika memotret rumah orang atau mobil orang, ketika yang punya marah-marah, Anda tidak bisa berkata, "ngapain larang gua motret, kamera-kamera gua".

4. Beberapa kasus ada pemenang lomba foto yang obyeknya manusia dibatalkan oleh juri karena tidak ada model release nya. Juga untuk kepentingan komersial lainnya, memerlukan model release dan property right.

Sekian teman-teman, mari kita cermati supaya tidak ada kejadian tidak enak dikemudian hari. Karena untuk pelanggaran hak cipta ini sanksi pidananya lumayan. Pelanggaran atas pasal 19 dan 20 sanksi pidananya kurungan paling lama 2 tahun dan denda paling banyak 150 juta rupiah.

Jadi kasarnya, jika saya iseng, ada yang memotret saya dan meng-upload di web atau blog, atau facebook misalnya. Bisa saja saya tuntut. Atau memotret orang, model, atau human interest dan modelnya menuntut, Anda bisa kena sanksi pidana sesuai UUHC. Jadi ketika kita sering keberatan ketika foto kita dicuri orang, kadang kita arogan juga ketika memotret, tidak memikirkan apa dan siapa yang kita potret.

http://nationalgeographic.co.id/forum/topic-2015.html


Share:

Beberapa Alasan Mengapa Fotografer Profesional Tidak Dapat Bekerja Tanpa Dibayar


Kepada yang terhormat pembeli foto,

 Jika seseorang telah memberitahu Anda halaman ini, maka kemungkinan besar Anda telah meminta untuk menggunakan sebuah atau beberapa foto secara gratis atau dengan kompensasi minimum.

 Sebagai fotografer profesional, kami seringkali menerima permintaan foto gratis. Di dalam dunia yang sempurna, kami akan sangat senang untuk memberikan respon yang positif dan membantu, terutama dalam proyek-proyek atau usaha-usaha yang berhubungan dengan pendidikan, isu sosial, dan pelestarian lingkungan hidup. Adalah adil untuk berkata dalam banyak kasus, kami berharap kami ada mempunyai waktu dan sumber daya untuk dapat berbuat lebih untuk membantu, lebih daripada hanya mengirimkan foto-foto.

 Namun sayangnya, hal-hal tersebut adalah kenyataan-kenyataan hidup yang tidak dapat kami responi, atau jika kami meresponi, jawaban kami adalah singkat dan tidak memiliki alasan yang mencukupi.

 Keadaan mungkin berbeda-beda untuk setiap situasi dibawah ini, tetapi kami menemukan adanya beberapa kasus yang terus terulang, yang telah kami jelaskan dibawah dengan tujuan untuk berkomunikasi lebih jelas dengan Anda, dengan harapan dapat menghindari kesalahpahaman atau secara tidak sengaja menyinggung Anda.

 Kami harap Anda dapat menerima beberapa poin berikut ini secara positif seperti layaknya tujuan kami. Kami sangat berharap bahwa setelah Anda membaca ini, kita dapat kembali berdiskusi dan membangun hubungan yang saling menguntungkan.

Fotografi Adalah Kehidupan Kami

  Menciptakan foto yang menarik adalah bagaimana kami menghidupi diri kami. Jika kami memberikan foto-foto kami secara gratis, atau terlalu sering meresponi permintaan atas foto gratis, kami tidak dapat mendapatkan penghasilan.

Kami Mendukung Gerakan-gerakan Yang Berguna Dengan Foto

  Kebanyakan dari kami sudi untuk memberikan kontribusi berupa foto, bahkan kadang lebih, untuk mendukung beberapa gerakan. Seringkali, kami berpartisipasi langsung dalam proyek-proyek yang kami dukung melalui foto, atau kami telah memiliki hubungan dengan orang-orang penting yang terlibat dalam proyek-proyek tersebut. Dengan kata lain, masing-masing dari kami dapat, dan mau untuk memberikan foto-foto tanpa kompensasi pada proyek-proyek tertentu.

Waktu Kami Terbatas

  Tidaklah praktis bagi kami untuk beralih dari mendukung beberapa proyek gratis, dan kemudian menyetujui semua permintaan atas foto gratis. Hal ini tidak lebih karena banyaknya waktu yang dibutuhkan untuk menanggapi permintaan-permintaan tersebut, berkoresponden, menyiapkan dan mengirim file-file, dan kemudian melakukan koresponden lanjutan untuk mengetahui bagaimana hasil foto kami digunakan, dan mengetahui apakah memenuhi tujuan atau tidak. Menjawab setiap permintaan akan memakan banyak waktu, dan waktu adalah selalu terbatas.

Dalih “Kami Tidak Punya Uang” Seringkali Sulit Dimengerti

  Alasan utama dibalik permintaan foto gratis biasanya adalah keterbatasan alokasi dana, yang artinya sang pemohon berdalih kekurangan alokasi dana.

 Permintaan-permintaan tersebut seringkali berasal dari organisasi-organisasi yang memiliki banyak uang di tangan, baik itu perusahaan go-public, instansi pemerintahan, BUMN, atau bahkan organisasi-organisasi non-pemerintah. Seringkali hanya dengan melihat laporan publik atau dokumen-dokumen lainnya, sangatlah mudah untuk mengetahui bahwa organisasi yang bersangkutan memiliki dana lebih dari cukup untuk membayar seorang fotografer secara layak, jika mereka mau.
Untuk memperdalam masalah, sangat sering terjadi bahwa dari semua pihak yang terlibat dalam suatu proyek, hanya sang fotografer yang diminta untuk bekerja tanpa dibayar. Semua pihak yang lain menerima kompensasi.

 Dengan adanya kenyataan ini, Anda mungkin dapat memahami mengapa kami seringkali tidak menggubris setiap kali kami mendengar “Kami Tidak Punya Uang.” Alasan-alasan tersebut dapat menjadi suatu cara untuk mengambil keuntungan dari orang yang mudah dimanipulasi.

Kami Memiliki Alokasi Dana Yang Sangat Terbatas

  Dengan beberapa pengecualian, fotografi bisa dibilang suatu profesi yang tidak terlalu menghasilkan banyak uang. Kami memilih jalan ini kebanyakan karena kecintaan kami terhadap komunikasi visual, seni rupa, dan subyek foto spesialisasi kami.
Makin banyaknya foto-foto yang bisa didapat melalui internet belakangan ini, ditambah dengan berkurangnya alokasi dana dari para pembeli foto, akan memberikan tekanan yang lebih kepada pendapatan kami yang sudah sedikit tersebut.

 Lebih lagi, untuk menjadi fotografer professional membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Profesi kami pada dasarnya membutuhkan banyak alat. Kami secara rutin harus membeli kamera, lensa, computer, piranti lunak, media penyimpanan, dan lebih lagi. Barang-barang kadang rusak dan harus diperbaiki. Kami harus membuat salinan data-data kami, karena sesederhana secangkir kopi yang salah tempat dapat menghapus hasil kerja selama bertahun-tahun. Bagi kami, investasi dalam alat-alat penting dan piranti lunak memerlukan ribuan dolar setiap tahunnya, karena kami harus selalu terdepan dalam hal teknologi baru dan metode-metode terbaik.

 Lebih lagi, travel adalah bagian besar dalam bisnis kami. Kami harus mengeluarkan banyak uang untuk transportasi, penginapan, dan biaya-biaya travel yang lain.

 Tentunya, dan mungkin yang terpenting, adanya investasi yang sangat besar dalam hal waktu dan pengalaman untuk kami dapat menjadi mahir dalam apa yang kami kerjakan, juga resiko yang seringkali juga harus kami ambil. Untuk memotret saja mungkin hanya perlu memencet tombol kamera, tetapi untuk menciptakan suatu foto dibutuhkan keahlian, pengalaman, dan penilaian.
Jadi kesimpulannya adalah, meskipun kami mengerti dan bersimpati dengan adanya alokasi dana yang terbatas, dari sudut pandang praktis, kami tidak mampu untuk memberikan subsidi kepada setiap permintaan.

Mendapatkan “Kredit” Tidak Berarti Banyak

  Permintaan untuk foto gratis biasanya juga diiringi dengan adanya janji untuk memberikan “kredit” dan “eksposur”, baik dalam bentuk watermark, link, atau mungkin penyebutan secara spesifik, sebagai ganti dari imbalan secara komersial.

Ada dua masalah utama dengan hal ini.

 Pertama, mendapatkan kredit bukanlah kompensasi. Pada akhirnya, kami telah menghasilkan foto yang dibutuhkan, jadi kredit adalah otomatis didapatkan. Ini bukanlah sesuatu yang kami harapkan dari pihak ketiga.

 Kedua, kredit tidak dapat membayar tagihan-tagihan. Seperti yang sudah ditulis diatas, kami bekerja keras untuk menghasilkan uang yang diperlukan untuk berinvestasi lagi di alat-alat fotografi, dan untuk menutup biaya-biaya bisnis yang lain. Diatas itu, kami perlu untuk menghasilkan cukup uang untuk membayar kebutuhan-kebutuhan dasar seperti makanan, tempat tinggal, transportasi, dan lain lain.

 Pendeknya, menerima kredit atas suatu foto yang kami buat itu adalah pemberian, bukan kompensasi, dan kredit itu bukanlah pengganti pembayaran.

“Anda Adalah Satu-satunya Fotografer Yang Tidak Masuk Akal”

  Ketika kami meluangkan waktu untuk terlibat dalam koresponden dengan orang-orang atau pihak-pihak yang meminta foto gratis, kadang-kadang pembicaraan berubah menjadi suatu pembicaraan kasar yang dituduhkan ke kami, yang pada dasarnya mengklaim bahwa semua fotografer yang lain yang telah dihubungi oleh orang atau pihak tersebut sangat senang untuk memberikan foto secara cuma-cuma, dan entah kenapa, kami adalah “satu-satunya fotografer yang tidak masuk akal.”

Kami tahu bahwa ini tidaklah benar.

 Kami juga tahu bahwa tidak akan ada fotografer yang masuk akal dan kompeten yang akan setuju dengan syarat-syarat yang tidak masuk akal. Kami menyadari fakta bahwa beberapa fotografer yang belum berpengalaman atau orang-orang yang hanya memiliki kamera mungkin akan setuju untuk bekerja tanpa dibayar, tapi seperti ada pepatah berkata: “Anda mendapatkan sepadan dengan apa yang Anda bayar.”

Lakukan Follow-Up

  Satu hal yang kami biasanya alami adalah ketika kami memberikan foto secara gratis, seringkali kami tidak menerima kabar, feedback, atau follow-up yang memberitahu kami kelanjutan atas even atau proyek yang bersangkutan, apakah tujuan (jika ada) tercapai, dan manfaat (jika ada) foto kami atas proyek tersebut.

 Seringkali, kami tidak mendapatkan jawaban atas e-mail yang kami kirim untuk mendapat kabar lebih lanjut, sampai, tentunya ketika seseorang membutuhkan foto gratis lagi.

 Pada saat dimana kami setuju untuk bekerja tanpa dibayar, berbaik hatilah untuk memberikan follow-up dan beritahu kami bagaimana proyek tersebut berlanjut. Sedikit antisipasi yang baik akan berkelanjutan dalam membuat kami merasa lebih mau untuk meluangkan waktu dan memberikan foto-foto lagi di masa yang akan datang.

Penutup

  Kami harap poin-poin diatas dapat menjelaskan kenapa fotografer-fotografer yang bersangkutan dibawah ini telah memberikan Anda link ini. Kami semua adalah para professional yang berdedikasi, dan kami sangat senang untuk bekerjasama dengan Anda demi kemajuan, dalam kerjasama yang saling menguntungkan.


Creative Commons License
Note to photographers: You can use the above text under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 Unported License. Text by Tony Wu. Translation by Yohanes Mangitung.

Sumber : http://photoprofessionals.wordpress.com/indonesian/
Share:

100 Tips dari Fotographer Profesional


Berikut adalah daftar tips, saran, aturan dan hal yang perlu diketahui tentang fotografi dari Eric Kim, seorang street fotografer yang juga memegang kelas fotografi lokakarya. Saya pikir inti dari tips – tips ini adalah untuk terus selalu mengambil gambar.

Berikut daftar lengkapnya:

  1. Hanya karena seseorang memiliki kamera mahal tidak berarti bahwa mereka seorang fotografer yang baik.
  2. Shoot selalu dalam format RAW. Selalu.
  3. Lensa prime (lensa fix) membantu Anda belajar untuk menjadi seorang fotografer yang lebih baik.
  4. Photo editing adalah sebuah seni tersendiri
  5. Aturan sepertiga bekerja 99%
  6. Makro fotografi bukan untuk semua orang.
  7. Filter UV berfungsi sama seperti lens cups
  8. Pergi keluar dan ambilah gambar ketimbang menghabiskan berjam-jam di forum fotografi.
  9. Tangkap keindahan alami dan anda mendapatkan foto keindahan alami yang juara.
  10. Film tidak lebih baik daripada digital.
  11. Digital tidak lebih baik dari film.
  12. Tidak ada "keajaiban" kamera atau lensa.
  13. Lensa yang bagus belum tentu memberikan foto yang lebih baik.
  14. Menghabiskan lebih sedikit waktu melihat karya orang lain dan lebih banyak waktu untuk mengambil gambar sendiri.
  15. Jangan bawa DSLR kamu ke pesta
  16. Gadis menyukai fotographer
  17. Membuat foto Anda b/w (black/white) tidak secara otomatis membuat mereka “berseni”.
  18. Orang-orang akan selalu mendiskreditkan pekerjaan Anda jika Anda memberitahu mereka bahwa Anda meng-"photoshop" gambar Anda. Sebaliknya, memberitahu mereka bahwa Anda mengolahnya dalam "ruang gelap digital".
  19. Anda tidak perlu mengambil foto dari segala sesuatu.
  20. Memiliki minimal 2 backup dari semua gambar Anda. Seperti yang mereka katakan dalam perang, dua adalah satu, satu adalah tidak ada.
  21. Lepaskan neck strap dan gunakan handstrap.
  22. Mendekatlah ke objek ketika memotret, hasilnya pasti lebih baik
  23. Menjadi bagian dari sebuah adegan saat mengambil foto, bukan tukang intip.
  24. Mengambil foto berjongkok sering membuat foto Anda terlihat lebih menarik.
  25. Kurangi kekhawatiran tentang aspek teknis dan lebih fokus pada aspek komposisi fotografi.
  26. Tutup setiap logo pada kamera Anda dengan Lakban hitam – dengan begini anda akan lebih low profile dan tidak mengundang banyak perhatian
  27. Selalu underexpose di 2/3 stop saat pengambilan gambar di siang bolong.
  28. Semakin banyak foto yang Anda ambil, akan semakin baik foto Anda.
  29. Jangan takut untuk mengambil beberapa foto dari adegan yang sama pada eksposur, sudut, atau bukaan yang berbeda.
  30. Selalu tampilkan foto terbaik Anda.
  31. Bidik dan potret dalam posisi kamera yang diam dan mantap.
  32. Bergabunglah dengan forum fotografi online.
  33. Kritik karya orang lain.
  34. Berpikirlah sebelum Anda menembak.
  35. Sebuah foto yang baik seharusnya tidak memerlukan penjelasan (meskipun informasi latar belakang seringkali ditambahkan pada gambar).
  36. Alkohol dan fotografi tidak beriringan.
  37. Mengambil inspirasi dari fotografer lain tetapi tidak pernah menyembah mereka.
  38. Biji padi-padian itu indah
  39. Tinggalkan ransel foto gunakan tas messenger. Itu membuat Anda mengambil lensa dan kamera jauh lebih mudah.
  40. Kesederhanaan adalah kunci.
  41. Definisi fotografi adalah: "melukis dengan cahaya." Gunakan cahaya dalam mendukung Anda.
  42. Temukan gaya fotografi anda dan tetapkan.
  43. Memiliki monitor kedua adalah hal terbaik untuk pengolahan foto.
  44. Silver Efex Pro adalah konverter b/w terbaik.
  45. Bawalah kamera Anda dengan Anda kemanapun.
  46. Jangan biarkan fotografi menjadi jalan kenikmatan hidup
  47. Jangan manjakan kamera Anda. Gunakan dan optimalkan penggunaannya
  48. Ambilah foto lurus.
  49. Ambilah gambar dengan percaya diri.
  50. Fotografi dan penjajaran adalah teman terbaik.
  51. Cetak foto besar Anda. Itu akan membuat Anda bahagia.
  52. Berikan foto Anda ke teman-teman.
  53. Berikan mereka ke orang asing.
  54. Jangan lupa untuk membingkainya.
  55. Cetakan Costco murah dan tampak hebat.
  56. Pergi keluar dan mengambil foto dengan teman.
  57. Bergabung dengan klub foto atau mulai membuat klub anda sendiri
  58. Foto membuat pemberian menjadi luar biasa.
  59. Memotret orang asing adalah tantangan yang mendebarkan.
  60. Candid Berpose.
  61. Cahaya alami adalah cahaya terbaik.
  62. 35mm (di full frame) adalah yang terbaik "walk-around" focal length.
  63. Jangan takut untuk bump up ISO Anda bila diperlukan.
  64. Anda tidak perlu selalu membawa tripod dengan Anda di mana-mana Anda pergi
  65. lebih baik untuk underexpose daripada overexpose.
  66. Foto Shooting tunawisma dalam upaya untuk menjadi "berseni" adalah eksploitasi.
  67. Anda akan menemukan kesempatan foto terbaik dalam situasi paling tidak mungkin.
  68. Foto selalu lebih menarik dengan disertakan unsur manusia.
  69. Anda tidak bisa mem"photoshop" gambar buruk menjadi yang baik.
  70. Saat ini semua orang adalah seorang fotografer.
  71. Anda tidak perlu terbang ke Paris untuk mendapatkan foto yang baik, kesempatan foto terbaik di halaman belakang Anda.
  72. Orang dengan DSLR yang memotret dengan cengkeraman mereka menunjuk ke bawah terlihat seperti orang bodoh.
  73. Kamera sebagai alat, bukan mainan.
  74. Dalam hal komposisi, fotografi dan lukisan tidak jauh berbeda.
  75. Fotografi bukan hobi-itu adalah gaya hidup.
  76. Membuat foto, bukan alasan.
  77. Jadilah asli dalam fotografi Anda. Jangan mencoba untuk menyalin gaya orang lain.
  78. Foto-foto terbaik menceritakan kisah yang memohon penampil untuk lebih.
  79. Kamera yang tidak berwarna hitam mengundang terlalu banyak perhatian
  80. Semakin banyak Anda membawa gear dengan Anda semakin sedikit Anda akan menikmati fotografi.
  81. Memotret portraits yang bagus lebih susah dari yang terlihat.
  82. Tertawa selalu menarik keluar karakter asli dalam sebuah foto.
  83. Jangan tampak mencurigakan saat mengambil foto-berbaur dengan lingkungan.
  84. Fotografi lanskap dapat menjadi membosankan setelah beberapa saat.
  85. Bersenang-senanglah saat mengambil foto.
  86. Jangan pernah menghapus foto Anda.
  87. Sopanlah saat mengambil foto orang atau tempat.
  88. Ketika mengambil foto candid orang di jalan, lebih mudah untuk menggunakan wide-angle daripada lensa tele.
  89. Perjalanan dan fotografi adalah pasangan yang sempurna.
  90. Pelajari bagaimana membaca histogram.
  91. Sebuah foto yang noise lebih baik daripada yang kabur.
  92. Jangan takut untuk mengambil foto di tengah hujan.
  93. Belajarlah untuk menikmati suasananya, daripada berusaha untuk mendapatkan potret yang sempurna tanpa henti.
  94. Jangan pernah mengambil foto pada waktu perut kosong.
  95. Anda akan menemukan banyak tentang diri melalui fotografi Anda.
  96. Jangan menimbun wawasan fotografi Anda -berbagi dengan dunia.
  97. Jangan pernah berhenti mengambil foto.
  98. Fotografi adalah lebih dari sekedar mengambil foto, itu adalah filsafat hidup.
  99. Tangkap momen yang menentukan.
  100. Tulislah daftar Anda sendiri.

Sumber : http://gizmodo.com/5904107/100-tips-from-a-professional-photographer
Share:

Foto Syur Bagi Model

Kecanggihan tehnologi telah membuat manusia kehilangan modal berharga dalam dirinya, yakni tubuh. Hal ini bisa terlihat dari adanya fenomena foto syur yang menjadikan modelnya sebagai objek.

Kebanyakan para model itu adalah perempuan. tubuh perempun seringkali dianggap sebagai modal yang menggoda secara simbolik dan ekonomis. karena itu, tubuh perempuan yang ditampilkan oleh para model foto syur sudah kehilangan makna hakikinya sebagai milik pribadi. Tubuh perempuan sudah menjadi milik publik. 

Ada dua motif yang menjadikan para perempuan itu menjadi model foto syur. yakni, Hobi dan pengaruh pertemanan. Hobi berkaitan dengan aktualisasi kesenangan para pemodel yang suka mencari sensasi. sementara, pengaruh teman berkaitan dengan komunitas yang memiliki solidaritas dan kekuatan hegemonik untuk membuat seorang perempuan terjerumus dalam aktifitas foto syur.

Foto syur bagi para pemodel tersebut bukan sekedar aktifitas hampa makna. Bagi mereka, ada tiga makna dibalik aktifitas foto syur. Pertama, foto syur sebagai media mendapatkan uang. kedua, foto syur sebagai pemenuhan kepuasan diri. ketiga, foto syur memiliki makna popularitas.
Share:

Ilusi Alat - Fotografi

Untuk menghasilkan hasil foto yang bagus, seringkali tidak dibutuhkan alat yang terlampau canggih. Tapi anggapan sebagian besar orang adalah untuk mendapatkan hasil foto yang bagus dibutuhkan kamera dan lensa yang mahal dan canggih.
Sebenarnya, untuk menghasilkan foto yang bagus membutuhkan ketrampilan dan kreatifitas. Masalahnya adalah, tidak ada hubungan antara kreatifitas dan pemakaian alat yang mahal. Sebagian besar fotografer (terutama fotografer amatir) menjadi kreatif justru karena keterbatasan alat yang dimiliki. Misalnya dengan membuat aksesoris lighting sendiri.
Semakin berpengalaman dan semakin sukses, alat yang digunakan biasanya semakin sedikit dan spesifik. Contohnya, Henri Cartier Bresson, salah satu bapak photojournalism seringkali hanya mengunakan kamera film dan lensa 50mm.
Alex Majoli, anggota fotografi Magnum, menyatakan dalam sebuah wawancara:
Kamu tidak selalu membutuhkan kamera dengan fitur yang banyak. Pada akhirnya kamu tidak membutuhkannya (macam-macam fitur kamera)  untuk membuat foto yang bagus.
Sedangkan semakin naif seorang fotografer, semakin banyak dan mewah alat-alat yang dibawa dan digunakan. Semakin banyak alat yang kita miliki seringkali membebani kita dalam perjalanan dan membuat pusing kita dalam urusan menentukan alat yang dipakai.
Lebih parahnya, kamera dan lensa yang mahal bisa memberikan ilusi bahwa kita adalah fotografer yang jago dan bernilai jual tinggi. Makanya itu banyak sekali fotografer yang mampu membeli alat-alat yang mahal dan studio yang mewah, tapi kualitas fotonya biasa-biasa saja dan jasanya kurang laku atau tidak sebanding dengan apa yang diinvestasikan.
Peralatan yang mewah seringkali tidak membantu, tapi malah bisa menghalangi kemajuan. Semakin mewah, semakin lama kita makin tergantung secara psikologi kepadanya. Dan ketika foto kita masih kurang bagus, kita akan membeli alat baru yang lebih mahal lagi dengan harapan alat tersebut bisa membantu kita.
Fotografer memang membutuhkan alat yang cocok, tapi sebagian besar dari kita tidak membutuhkan alat yang mewah. Kemampuan dalam mengetahui apa yang kita butuhkan dan apa yang kita inginkan (hasrat) akan membedakan antara fotografer yang sukses atau tidak.
Saran saya adalah sebelum mengganti lensa, kamera, flash atau peralatan lainnya, tanyakan kepada diri kita apakah kita sudah memanfaatkan secara optimal peralatan yang kita pakai?  Jika jawabannya adalah belum, lebih baik kita kembali belajar & berlatih mengunakan alat yang kita punya terlebih dahulu sebelum mencari peralatan yang lebih mahal.
Ujung-ujungnya, kesuksesan tergantung kualitas karya kita, bukan apa yang kita miliki.

Sumber:
http://www.infofotografi.com/blog/2012/02/ilusi-alat/
Share:
BARU!!! ---> DISTRIBUTOR PULSA TERMURAH DAN TRANSAKSI TERPOPULER VIA SOSMED portalpulsa, Transaksi via App Android, Facebook, Telegram, LINE, GTalk, Hangouts, Twitter, Sms, Email, Jabber / XMPP, dan Member Area

TOPIK TERPOPULER

Wisata Kerbau Rawa Kalang Hadangan

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

TAUTAN BERITA

HALAMAN FACEBOOK

pulsagram,